Saatnya Blue Bird bertindak menyelamatkan nama besar

Tahukah anda, peristiwa yang menimpa Blue Bird Group yang bertubi-tubi akhir-akhir ini ditakutkan akan mempengaruhi brand BLUE BIRD yang sudah bertahun-tahun dijaga dan dipercaya kepercayaan masyarakat akan luntur. Belum selesai dengan peristiwa JM yang cukup membanjiri social media, hari ini twitter diserbu dengan peristiwa terbakarnya Silver Bird di jalan tol Tangerang. Jika keduanya dibiarkan  membuat media konvensional akan menjadikan berita yang beredar di social media menjadi sumber berita.

Peristiwa dimulai dengan muatnya berita peristiwa artis FTV JM yang nyaris diperkosa dimuat di Warta Kota (4/4/12) dengan judul “JM Harap Sopir Taksi Cabul Ditangkap “ setelah JM melaporkan peristiwa yang menimpa dirinya ke Mapolrestro Jakarta Timur, Selasa (3/4/2012) kemudian link berita beredar di twitter, sontak semua platform social media seperti facebook, youtube dan blog memuat berita ini. Berita terus meluas seiring dengan berbagai dugaan nama sebenarnya artis berinisial “JM” tersebut. Berita tersebut membuat manajemen Blue Bird diburu para kuli tinta. Manajemen Blue Bird Group dibantu PR Agency tentunya sudah melakukan berbagai kegiatan media relations seperti menggelar press conference dsb tapi apa yang sudah dilakukan belumlah cukup apalagi ketika muncul berita tanggal 10 April yang menduga sopir tersebut kabur karena tidak memenuhi panggilan dan hingga hari ini (17/04) beredar kabar di kalangan media bahwa R tidak diketahui keberadaannya alias kabur. Jika dibiarkan berbagai berita negatif akan kembali memanas.

Apa yang sudah dikerjakan oleh Blue Bird belumlah cukup.Jangan hanya fokus pada media konvensional (print, online dan TV) dan media hard news saja, coba alihkan perhatian dengan membangun opini atau berita yang berimbang di ranah social media. Belum terlihat Blue Bird bergerilya di social media dengan berbagai blast feature article yang meng-counter masalah ini sebagai peristiwa keteledoran JM yang mudah percaya pada bujuk rayu sang sopir atau kebodohan seseorang yang mudah percaya akan membukakan ‘aura’ sang artis. Percayalah social media adalah media yang paling dipercaya publik saat ini. Jadi meskipun Blue Bird sudah membangun Crisis Center 24 jam, rasanya jangan mengecilkan peran social media.

Balik ke teori Crisis Management Flowchart. Berikut ini adalah tips berharga yang pantas diikuti.

Saat terjadi “crisis” perusahaan harus membentuk “24-hour crisis centre” /crisis team secepat mungkin dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. PR consultant/PR agency: Mengumpulkan dan membuat summary mengenai crisis yang terjadi (pemberitaan negative) mengenai perusahaan/client dan di submit ke perusahaan/client segera.
  2. Perusahaan menunjuk jurubicara/“spokesperson”terlatih, seperti Director, PR/Comm Managers/Directors/Corp.Secretary untuk memberikan pernyataan/keterangan kepada media/publik.  Komunikasi dengan media hanya dilakukan oleh “spokeperson” yang ditunjuk, tidak boleh lebih dari satu “spokeperson”.
  3. PR Consultant/PR agency: Menyiapkan “Press Statement” atas crisis yang terjadi dan penanganannya seperti, mengutamakan keselamatan/safety, pelayanan kesehatan dan sebagainya dalam waktu 1×24 jam agar dapat menjaga reputasi perusahaan/client
  4. Mengundang  media serta distribusi press release ke media nasional (cetak dan elektronik) segera mungkin, tidak boleh dari 24 jam.

 

Catatan: Setiap komunikasi ke publik hanya dilakukan oleh “spokeperson” yang di tunjuk agar komunikasi dengan media/publik akan terarah, jelas dan pasti.  Pada masa awal crisis, pemberitaan cenderung negatif.

PENTING – Selama crisis berlangsung, media monitoring team harus memantau pemberitaan terkait crisis, termasuk ‘key opinion formers’ statement di media (cetak dan elektronik).

Tahap Investigasi: probing kasus dengan pihak terkait (keluarga korban/pihak yang dirugikan, kepolisian, pengacara pihak client, instansi pemerintah/departemen terkait, LSM dan pemuka masyarakat).

Proses investigasi akan berlangsung sekitar 4-8 minggu tergantung dari kasus crisis.  Pemberitaan negatif sejak crisis akan cenderung menjadi neutral hingga hasil investigasi selesai.  Tetapi, harus diantisipasi pemberitaan  dimedia “serangan” atau opinion dari competitor atau LSM/group yang tidak pro terhadap perusahaan.

Setelah hasil  invetigasi selesai,  akan dilanjutkan dengan Press conference untuk memaparkan hasil investigasi/probing result dan di publikasikan kepada media dan stakeholders.  Angle pemberitaan juga dapat diciptakan melalui ‘key opinion formers’ untuk memberikan statement positif terkait crisis tersebut.

Team saat crisis (PR Consultant/agency):

  1. Dibutuhkan 2-3 PR Consultant: menyiapkan press statement (versi Indonesia-English), menyiapkan anticipated Q&A dan mengundang target media (nasional) dan client servicing selama crisis berlangsung.
  2.  Dibutuhkan 2 orang Media monitoring team (memantau berita cetak maupun online), bisa juga dengan bantuan jasa MediaBanc.
  3. Media summary hasil pantauaan selama crisis berlangsung.

Namun hal diatas adalah teorinya namun setiap peristiwa memiliki keunikan penanganannya. Contoh soal pada peristiwa krisis yang dihadapi oleh Blue Bird, karena berita JM dibesarkan oleh berita yang muncul di social media, harap jangan abaikan keberadaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: